Taratak Bukareh atau Takkae

January 2, 2008 at 7:59 am (Kampungku)

Penetapan Nagari dalam dat Minangkabau dimulai dengan empat tahap, terbentuk dengan berkembanganya masyarakat dan semakin ramainya suatu wilayah tersebut. Permukiman Taratak dihuni oleh beberapa orang, setelah semakin ramai maka akan terbentuklah Dusun, terbentuknya beberapa dusun dalam suatu wilayah yang berdampingan maka dinamakan Koto dan setelah lengkap maka akhirnya terbentuk Nagari.

Disolok Selatan, khususnya di Kecamatan Sungai Pagu, terdapat beberapa Taratak, seperti Taratak Bukareh, Taratak Pane, Taratak Baru, dan lainnya (Yang diwilayah Kanagarian Alam Pauh Duo), tapi yang lebih besar dan pada saatnya membentuk sebuah Desa adalah Taratak Bukareh, sementara taratak yang lainnya hanyalah berupa kampung kecil atau dusun didalam wilayah desa pada masanya.

Dengan dihembuskannya angin Reformasi, dan terbentuknya Undang-undang Otonomi Daerah melalui Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, maka pemerintah Daerah Sumatra Barat melalui peraturan Daerah No.9 Tahun 2000 membentuk Pemerintahan Nagari, dengan demikian, kita masyarakat Minangkabaulah yang mempunyai pemerintahan terbawah dengan memakai Wali Nagari, tidak menggunakan Kepala Desa/Lurah kecuali untuk wilayah Kota beserta NAD dengan Keucik dengan Gampongnya.

Kembali kepada istilah Taratak tadi, penulis hanya akan membahas daerah (Jorong) Taratak Bukareh yang berada diwilayah Kanagarian Alam Pauh Duo, Kecamatan Sungai Pagu.

Menurut sejarah orang tua-tua, Taratak Bukareh adalah suatu daerah yang sangat banyak di tumbuhi Pohon Kemiri, pohon yang buahnya menjadi bumbu masak dam minyak untuk obat, Kemiri bahasa Sungai Pagunya adalah Bukareh, maka wilayah tersebut dinamakan Taratak Bukareh, karena di wilayah Alam Pauh Duo, taratak bukareh adalah kampong awal terbentuknya Nagari disamping Lasuang Batu dan Banuaran.

Ditaratak bukareh, ada beberapa kampung tua, yang mana dizaman dahulu sangat tersohor kemakmuran dan keramaiannya dengan deretan-deretan Rumah Gadang, tapi sayang, sebagian dari kampung tersebut saat ini hanya terdapat situs-situs berupa sisa pondasi dan dari rumah gadang tersebut, sebut saja Kototuo, yang terletak disamping hamparan sawah yang luas, dikelilingi Banda/Sungai Buatan sebagai benteng terhadap serangan gajah, namun saat ini, tidak satupun dari kaum rumah gadang tersebut yang melanjutkan kehidupaan dengan mendirikan bangunan disana.

Masih sangat beruntung dengan Kotobaringin, daerah yang terletak di dataran tinggi tersebut semakin ramai dan banyak yang membangun rumah, tapi sayang, Rumah gadang sebagai ciri khasnya sudah sangat terbengkalai, namun begitu kehidupan disana semakin ramai.

Surau Gadang, wilayah yang terdapat diantara kedua koto tersebut, adalah wilayah yang tidak memakai nama Koto, karena dengan keberadaan kedua koto tersebut, wilayah ini adalah basis tempat penyiaran agama islam pada masyanya dengan adanya sebuah surau yang besar dengan seorang syech sangat sangat terkenal sampai kenegeri seberang pada masa itu, dan juga di sini adalah tempat belajar ilmu bela diri (silat), tapi saat ini hanyalah tinggal sejarah, dan saksi bisu yang bias dilihat saat ini adalah bekas tangga surau lama yg ditumbuhi pohon kelapa yg sangat tinggi dan jadi jalan setapak, mihrat dari surau tersebut masih bias kita ketahui, dengan makan leluhur orang surau gadang (Syeh Abdul Karim beserta keturunan yang pas dikubur di Mihrab Surau lama tersebut).

Ada di http://www.solok-selatan.com, 19 July 2006

1 Comment

  1. marola said,

    Ingin malanjuik an, tapi sadang banyak malehh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: